Buah-Merah.com


Halaman Utama
Sekilas Buah Merah
Khasiat Buah Merah
Kandungan
Testimonial              ◊ Cara Pembelian
Kontak Kami

 


Line Image

Testimonial

Stamina Prima Berkat Buah Merah
Marthen Wenggi, Wamena, Jayawijaya

Marthen Wenggi lahir di Wamena pada tanggal 10 Maret 1956. la adalah seorang guru di sebuah SD Negeri di Wamena, sekaligus seorang mahasiswa MIPA di Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua. Pria enerjik yang malang melintang selama 30 tahun di pedalaman sebagai guru ini, mengenal buah merah sejak 30 tahun lalu. Tepatnya, ketika bertugas di pedalaman. Waktu itu, menurut Marthen, untuk mendidik masyarakat di pedalaman ia harus menyatu dengan masyarakat terlebih dahulu. Caranya adalah dengan memakan apa yang mereka makan dan hidup berbaur mengikuti adat-istiadat mereka.

Di kawasan pedalaman Yalimo, Marthen mulai makan dengan penduduk setempat. Makanan yang dihidangkan adalah ubi bakar dengan sayuran yang dicampur buah merah. "Ubi bakar dikupas, ditaruh di atas daun pisang, dicampur sayuran. Kemudian buah merah dikuliti dan dikramas (diremas dengan tangan hingga pasta dan minyaknya mengalir) di atas ubi. Rasanya enak sekali," Marthen mengenang saat pertama kali mengonsumsi buah endemik Papua tersebut.

Sejak saat itu, setiap hari Marthen selalu menyertakan buah merah dalam menu masakannya. Hasilnya, hingga saat ini Marthen sehat dan tidak mengidap suatu penyakit apa pun. Dalam bertugas, berjalan berkilo-­kilometer dilakoninya tanpa kehabisan energi, walaupun saat berjalan, asap mengepul dari gulungan tembakau di bibirnya. Hingga saat ini, Marthen masih setia menenteng buah merah jika menumpang pesawat dari Wamena ke Jayapura.

Kanker Rahim Rontok Berkat Minyak Buah Merah
Ny. Rosdiati Arif, 48 th, Jl. Kaliprogo II RT 09 RW 3, Padang Harapan, Bengkulu, Telp. (0763) 27594

Awalnya, kehidupan sehari-hari Ny. Rosdiati biasa saja. Kehidupan istri pensiunan pegawai negeri ini mulai berubah sejak tahun 2002. Tepatnya, saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 2B. Hal ini tentu saja mengejutkan Rosdiati.

Setelah berobat ke RSU Palembang, ia harus menjalani operasi dan kemoterapi. Hingga akhir 2003, Ny. Rosdiati menjalani kemoterapi sebanyak enam kali. Meskipun demikian, penyembuhan yang dilakukan tenaga medis ini tidak banyak mengurangi penderitaan perempuan berumur 48 tahun ini. Bahkan, badan Rosdiati lama-­kelamaan menjadi kurus, loyo, rambut rontok, dan sering sakit-sakitan.

Setelah mengalami penderitaan selama lebih dari satu tahun, pada bulan Februari 2003 Ny. Rosdiati mendapat kiriman minyak buah merah dari keponakannya yang tinggal di Wamena, Papua. Tanpa berpikir panjang, ia segera meminum minyak buah merah tersebut tiga kali sehari. Sekali minum satu sendok makan.

Tepat setelah 20 hari minum minyak buah merah, dari rahimnya keluar potongan-potongan daging (menyerupai daging yang dicincang) berwarna merah sebesar ujung kelingking. Pada bulan Juni, ia mendapat kiriman minyak buah merah lagi sebanyak 300 ml. Setelah diminum, dari rahimnya keluar lagi potongan daging yang diduga kanker yang menyerang rahimnya. Pada bulan September, juga demikian, yakni dari rahimnya keluar lagi potongan daging menyerupai lemak ayam. Selanjutnya, pada bulan Desember sering keluar cairan berwarna putih kental bercampur dengan bintik merah yang berbau anyir. Sejak itu, kondisi Ny. Rosdiati berangsur membaik.

Saat ini, kondisi fisik Ny. Rosdiati jauh lebih baik dibandingkan dengan 2—3 tahun lalu. Dulu, berat badannya turun drastis hingga tinggal 46 kg, tetapi sekarang sudah normal seperti semula, yakni 55 kg. Badannya sudah terlihat segar, tidak pucat, dan rambutnya pun tidak rontok lagi.

Rasa Sakit Akibat Kanker Otak Berkurang
Heni Winarti, Batu, Jawa Timur

Ibu Guru SD Tlekung ini adalah lahir pada tahun 1961 dan tinggal di Kota Apel, Batu, Jawa Timur. Di daerah pegunungan yang sejuk itulah Heni melakukan aktivitasnya sehari-hari. Awalnya kegiatan belajar mengajar di SD tersebut terlaksana dengan wajar. Namun, sejak pertengahan 2004, ada perasaan yang berbeda di kepalanya. Dalam sehari, selama sekitar 15 menit, kepalanya terasa sakit dan telinga berdenging, sehingga aktivitasnya terganggu. Kondisi seperti ini bisa terulang beberapa kali dalam sehari. Karena tidak tahan menanggung siksaan, Heni mengunjungi dokter. Setelah kepalanya di-scan, oleh dokter Heni dinyatakan mengidap kanker otak dan harus dioperasi. Tentu saja ibu guru ini kaget dan menolak pengangkatan kanker dari kepalanya. "Saya takut kalau harus dioperasi," katanya.

Pada akhir 2004, oleh teman sejawatnya sesama guru, Heni diberi minyak buah merah dan disuruh meminumnya. Setelah berkonsultasi dengan dokter, ia pun diperbolehkan mengonsumsi minyak dari buah asal Papua tersebut. Awalnya, Heni hanya mengonsumsi satu sendok makan setiap hari. Seminggu kemudian, kepalanya pun mulai enteng. Tidak seperti sebelumnya, sakit di kepalanya mulai berkurang dan hanya sesekali menyerang.

Akhirnya Heni memesan minyak buah merah langsung dari sentranya di Wamena. Dosisnya pun ditingkatkan menjadi dua kali sehari, sekali minum satu sendok makan. Karena kondisinya membaik, akhirnya secara rutin ia me­ngonsumsi tiga sendok makan setiap hari. Walaupun belum sembuh secara total, siksaan di kepalanya bisa mereda. Bahkan, sejak mengonsumsi minyak buah merah, obat-obatan dari dokter mulai ditinggalkannya. Secara medis, sampai saat ini belum ada keterang­an tentang kondisi kanker di kepalanya, tetapi yang jelas kondisi kesehatannya sudah membaik. Kegiatan belajar mengajarnya pun sudah normal lagi.

Calon Kanker Mulut Rahim Berkurang
Ussy Sulistyowati, Artis Sinetron dan Bintang Iklan

Gadis kelahiran 13 Juli 1980 ini adalah seorang artis sinetron dan bintang iklan. Sampai saat ini sudah 16 judul sinetron dibintanginya dan tiga buah iklan memakai paras ayunya. Pemeran tokoh Mince dalam sinetron "Cintaku di Rumah Susun" ini pada bulan Juli 2004 mulai merasakan kejanggalan di mulut rahimnya. Setelah diperiksa, ternyata ada endovestrosen, yaitu jaringan tumbuh yang biasanya muncul saat menstruasi dan berpotensi menjadi kanker.

Ussy pun terbang ke Singapura untuk dibiopsi, melihat jaringan tersebut kanker ganas atau tidak. Biopsi yang dilakukan di Rumah Sakit Mount Elisabeth itu menunjukkan adanya kelenjar berwarna putih sepanjang 3 cm yang menurut dokter berpotensi menjadi kanker dalam kurun waktu 5—10 tahun lagi. Ussy menderita prakanker dan dokter menyarankan untuk operasi.
Saat pulang ke
Jakarta untuk menunggu operasi, Ussy mendapat informasi dari seseorang agar ia mengonsumsi sari buah merah dari Papua. Kebetulan saat itu sari buah merah asal Papua sedang ngetrend dan menjadi buah bibir. Dua minggu sebelum berangkat ke Singapura untuk operasi, Ussy mengonsumsi sari buah merah sebanyak satu sendok teh, dua kali sehari.

Sesampainya di RS Mount Elisabeth, dokter yang menanganinya keheranan, karena lingkaran putih calon kankernya yang semula sepanjang 3 cm telah menyusut hingga tinggal 1 cm. Ussy mengatakan kepada dokternya dengan jujur bahwa selama di Jakarta ia meminum sari buah merah. Karena dokter di sana tidak mengenal buah merah, Ussy pun menjelaskannya secara panjang lebar bahwa di Indone­sia ada buah merah yang oleh masyarakat dimanfaatkan untuk pengobatan. Meskipun demikian, kelenjar yang berpotensi menjadi kanker di mulut rahim Ussy tersebut tetap dioperasi. Hasil kerja sari buah merah selama dua minggu yang mampu melenyapkan calon kanker sepanjang 2 cm dituntaskan oleh dokter RS Mount Elisabeth.

Sampai sekarang di sela-sela kesibukannya Ussy masih setia mengonsumsi sari buah merah asal Papua. Sari buah yang diperoleh dari temannya yang bekerja di Papua pun kini dikonsumsi oleh semua anggota keluarganya.

Selamat Tinggal Ambeien
Hari Tjahyono, Ssi, Lembah Baliem, Jayawijaya

Pria kelahiran Ponorogo tanggal 1 Juni 1964 jnj adalah seorang sarjana lulusan Universitas
Terbuka. Pada tahun 1985, Hari berlayar ke Papua dan terbang ke Kecamatan Oksibil di Pegunungan Bintang, Lembah Baliem, tepatnya di Maki. Di
sana, pria yang beristrikan perempuan dari Ranah Minang ini mengajar matematika dan berdakwah menyebarkan agama Islam kepada penduduk penganut animisme.

Pada tahun 1999, Hari mulai merasakan lubang duburnya panas setiap buang air besar (BAB) dan duduk pun menjadi tidak enak. Lama-kelamaan, jika buang air besar, darah keluar bercampur dengan kotoran, sehingga duburnya terasa panas dan sakit. Saat berobat ke rumah sakit di Wamena, oleh dokter ia diberi obat antiambeien yang harus dimasukkan ke dalam lubang dubur. Meskipun demikian, penyakitnya tak kunjung sembuh.

Siksaan setiap kali buang air besar tetap saja menimpanya. Hal ini tentu membuat sang istri harus berkorban melupakan masakan khas kampung halamannya, masakan
padang yang pedas. Soalnya, setiap kali menyantap masakan istrinya, Hari akan tersiksa, lubang duburnya bagai tersengat api, panas dan terasa pedas.

Siksaan yang dialami Hari berakhir setelah ia bertemu penulis buku Khasiat dan Manfaat Buah Merah: Si Emas Merah dari Papua, H. Machmud Yahya. H. Machmud Yahya yang waktu itu sudah mulai mengolah buah merah memberikan satu botol minyak buah merah (350 ml). Minyak buah merah yang diberikan penulis ini diminum sekali sehari, satu sendok makan setiap hari. Seminggu kemudian, saat buang air besar, panas di duburnya mulai hilang. Warna merah yang bercampur dengan kotorannya bukan lagi darah, tetapi efek dari minyak buah merah yang dikonsumsinya. Ambeiennya sembuh dalam waktu satu minggu dan sampai sekarang tidak menyiksanya lagi. Yang mem­buatnya lebih senang adalah ia sudah berani menyantap masakan istrinya, masakan padang yang ekstra pedas.

Minyak Buatan Sendiri, Sembuhkan Asam Urat
Karni, Jayawijaya, Telp. 081344216199 dan (0969) 31895

Lelaki kelahiran Ngawi tanggal 10 Februari 1958 ini adalah alumni D3 Pertanian APP (Akademi Penyuluh Pertanian) Malang. Setelah menamatkan studinya di Malang, pada tanggal 9 April 1983, Karni menginjakkan kakinya di Bumi Cenderawasih. Pertama kali bertugas, Karni menjadi tenaga honorer sebagai penyuluh pertanian di Dusun Elagaema, Wamena, selama enam tahun. Di sana, ia sempat tidak makan nasi selama tiga bulan karena jatah berasnya tersendat. Maklum, waktu itu transportasi belum lancar.

Sejak pindah tugas sebagai penyuluh di KIPPK (Kantor Informasi Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan)
Kabupaten Jayawijaya, ia banyak melakukan tugas sampai larut malam. Kendaraannya waktu itu adalah sepeda motor, yang harus menembus dinginnya suhu di Lembah Baliem. Pada pertengahan 2003, Karni mulai merasakan pegal­-pegal dan linu di persendian tangan dan kakinya. Lama-kelamaan pegal dan linu itu menjadi sakit, terutama pada malam hari saat suhu dingin. "Setiap pulang malam, sendi terasa sakit dan sulit digerakkan, sehingga saya sering menangis saat mau tidur," kenangnya. Ternyata Karni terserang rematik dan asam urat. Pegawai Negeri bergolongan IIIB ini hampir setahun tersiksa rematik dan asam urat.

Pada akhir 2004, ia bertemu dengan kawannya, seorang guru SD yang penyakitnya sembuh setelah mengonsumsi buah merah. la kemudian dianjurkan minum minyak buah merah. Pertama kali minum, Karni merasa jijik. Namun, demi kesembuhan penyakitnya, Karni pergi ke Pasar Wamena dan membeli buah darah tersebut. Sampai di rumah, buah tersebut diolah sendiri dan minyak yang dihasilkan diminumnya. Karena tergolong pria bandel, Karni pun minum minyak buah merah papua asal­-asalan. "Ya, kalau ingat saja minumnya," tegasnya.

Sebulan sejak minum minyak buah merah, Karni mulai merasakan adanya perubahan. Rasa sakit di persendian tangan dan kakinya mulai hilang. Tangannya dengan enteng bisa digerakkan tanpa rasa sakit. Keluar malam pun sudah tidak ada masalah. Karni sembuh berkat minyak buah merah buatannya sendiri. Namun, untuk berjaga-jaga dari serangan lanjutan, ia rutin mengonsumsi minyak buah merah ini. Selain asam uratnya sembuh, Karni juga jarang masuk angin walaupun harus keluar malam mengendarai sepeda motor. "Badan jadi enak dan segar tanpa masuk angin," kata Karni.

Menstruasi 4—5 Bulan Sekali, Lancar Dalam Tiga Minggu
Siti Aminah, Paprungpanjang, Bogor

Siti Aminah, (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pelajar SMU di Bogor. Siklus haid gadis kelahiran tahun 1988 ini berbeda dengan teman-­teman sebayanya. Sebab ia hanya mengalami menstruasi setiap 4—5 bulan sekali. Selain siklus haidnya tidak teratur, Siti Aminah juga tersiksa tatkala haid datang karena pinggangnya sangat terasa sakit dan perutnya mual serta melilit.

Siksaan yang dialaminya ini mulai berakhir sejak pertengahan Januari 2005. Ketika itu, secara kebetulan ia memperoleh sari buah merah dari kakaknya. la pun meminumnya 1 sendok makan 1 atau 2 kali sehari untuk meningkatkan stamina, tanpa pernah tahu sebelumnya bahwa sari buah merah yang diminumnya itu bisa membantu melancarkan siklus haid.

Percaya atau tidak, tiga minggu kemudian, ia mulai mendapatkan siklus rutinnya sebagai seorang wanita dewasa. Memang nyerinya masih ada tetapi tidak seperti biasanya. Sebulan kemudian ia mulai mendapat haid lagi dan rasa sakitnya berkurang. Sejak itu, ia mulai rutin mendapat haid sebulan sekali tanpa rasa sakit. Namun, sampai saat ini belum ada penjelasan medis atau penjelasan secara ilmiah mengenai kandungan senyawa yang dapat membantu melancarkan haid.

Selain Siti Aminah, masih ada dua lagi wanita yang merasakan khasiat dan manfaat buah merah untuk membantu kelancaran sikius haid bulanannya. Umumnya mereka mempunyai keluhan yang serupa dengan Siti.

Hepatitis vs Sari Buah Merah
Heru Alamsyah, JI. Raya Jatimalcmur, Bekasi

Heru Alamsyah adalah anak kedua dari tiga bersaudara yang masih duduk di bangku kelas II SMA di Bekasi. Sejak empat bulan yang lalu, siswa yang jago ilmu fisika ini terserang virus hepatitis. Istilah ibunya waktu itu, Heru terkena sakit kuning. Tentu saja hal ini membuat Heru harus kehilangan waktu beberapa hari untuk belajar fisika di sekolahnya. Karena dokter waktu itu memintanya beristirahat di rumah untuk sementara waktu. Menurut dokter ia harus berpantang makanan yang mengandung minyak. Hal ini tentu saja agak memutuskan harapannya. Soalnya, ia baru saja mendapat sari buah merah yang rencananya akan digunakan untuk menyembuhkan penyakit hepatitisnya. Padahal sari buah dari Papua yang akan diminumnya ini dalam bentuk minyak.

Akhirnya, pria kelahiran 27 Maret 1988 ini nekat meminumnya. Satu sendok teh sari buah merah diminumnya 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Setelah meminumnya, badan memang agak terasa lemas, tetapi Heru diam saja, takut disalahkan oleh orang tuanya.

Ternyata badan lemas tersebut dialami oleh semua orang yang mengonsumsi sari buah merah. Ajaib, dari hari ke hari badan dan wajahnya menjadi segar dan kelopak matanya jernih tidak berwarna kuning lagi.

Asam Urat Sembuh dalam Seminggu
Ayub S. Parrrata, 731h, Penganggrek Nasional, JI. Tangkuban Perahu No. 157, Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Telp. (022) 2789286

Ayub S. Parnata yang lahir di Bandung pada tanggal 4 Desember 1932 merupakan nama yang tidak asing di kalangan penggemar anggrek. Sedikitnya ia berhasil menyilangkan 10.300 jenis anggrek unggulan yang beberapa di antaranya telah didaftarkan di pusat peranggrekan internasional, yaitu The Register of Orchid Hybrids, Royal Horticultura Society, Vincent Square, London, Inggris. Karenanya, beberapa hasil karyanya menghebohkan penganggrek di luar negeri. Maklum, sejak tahun 1947, kakek ini sudah berkutat dengan anggrek. Sejak itu, praktis kehidupan sehari-harinya tidak terlepas dari tanaman anggrek.

Sejak pertengahan 2004, aktivitasnya "bermesraan" dengan anggrek agak terganggu. Bapak anggrek ini terserang asam urat. Menurutnya, ketika serangan asam uratnya kambuh, kakinya sangat sakit. Bahkan, bergerak sedikit saja sakitnya luar biasa. Karenanya, tidak jarang ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Serangan hebat terjadi lagi saat ia ngemil suuk (makan kacang tanah). Serangan asam urat di kakinya ini secara rutin menyerangnya, tidak hanya pada malam hari, tetapi juga siang hari saat ia harus mengurus anggrek­-angreknya.

Pada bulan Juni 2004, sebagai salah satu tokoh tani, Ayub berangkat ke Manado untuk mengikuti temu Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA). Pada pertemuan ini banyak dibuka stand dari penjuru tanah air yang memamerkan produk unggulan. Di salah satu stand dari Provinsi Papua, Ayub secara kebetulan melihat produk berupa minyak buah merah. Oleh penjaga stand tersebut, ia disarankan meminum minyak buah merah sebanyak satu sendok makan, dua kali sehari. Karena ingin penyakitnya sembuh, Ayub pun membeli sebotol minyak buah merah ukuran 200 ml dan meminumnya satu sendok makan, tiga kali sehari.

Sebenarnya waktu minum pertama kali ia tidak yakin asam uratnya bisa sembuh. Keraguan itu disebabkan warna minyak buah merah tersebut menurutnya tidak lazim, apalagi tidak berasa dan tidak berbau. Saat diminum, minyak tersebut terasa nggelontor di lehernya. Meskipun demikian, ia mencoba "menganilisis" warna merah tersebut. la pun bisa memastikan bahwa warna tersebut disebabkan kandungan berupa tokoferol dan betakaroten yang jika sudah masuk ke dalam tubuh menjadi vitamin A. "Dan ini pasti ajaib," begitu pikirnya.

Sejak minum minyak buah merah, keajaiban mulai terjadi. Rasa sakit akibat asam uratnya berangsur-­angsur menghilang. Sungguh luar biasa, setelah satu minggu mengonsumsi minyak buah merah, asam uratnya lenyap. Pengalaman berharga ini kemudian diberitakan kepada mertuanya yang juga mengidap asam urat. Setelah mengonsumsi minyak buah merah, penderitaan mertuanya juga sembuh. Meskipun demikian, baik Ayub maupun mertuanya tetap berpantang aneka makanan yang bisa memicu kambuhnya asam urat, terutama jeroan dan kacang tanah. Setelah sembuh dari asam urat dan tubuhnya semakin bugar, anggrek-anggrek Ayub kembali kebagian sentuhan tangan dinginnya.

Dua Botol Sari Buah Merah Sembuhkan Asam Urat
Diah Hadaning, Sastrawati, Depok

Diah Hadaning yang lahir di Jepara pada bulan Mei 1940 ini adalah nama yang tidak asing di dunia sastra Indonesia. Ibu tiga orang putra ini pernah menjadi redaktur budaya di mingguan terbitan Jakarta, Tabloid Podium, dan dewan pendiri Komunitas Sastra Indonesia. Sampai saat ini paling tidak ia sudah berhasil meluncurkan buku sastra sebanyak 33 judul yang 10 judul di antaranya ditulisnya sendiri. Kiprahnya di sastra Indonesia sudah menghasilkan penghargaan dari Eboni untuk puisi pelestarian hutan tahun 1994, dari Malaysia pada tahun1980, dan dari Lembaga Pusat Kebudayaan Jawa pada tahun 2003.

Aktivitas berkesenian nenek berumur 65 tahun dengan dua orang cucu ini pada pertengahan Januari 2005 mulai terganggu. Sastrawati yang senang bermeditasi ini mulai merasakan gangguan pada persendian di kaki kirinya. Waktu itu, ia mengobati dirinya sendiri dengan herbal yang didapat di pekarangan rumahnya dan dibantu dengan meditasi tentunya. Herbal yang diminumnya adalah krokot yang direbus dan diminum airnya pada pagi dan sore hari saat persendian kakinya terasa sakit. Hasilnya, esok harinya kakinya mulai terasa enteng. Namun, penyakit ini tak kunjung hilang, bahkan untuk menaiki tangga rumahnya ia merasa kesulitan. Lama-kelamaan persendiannya membengkak dan terasa ngilu. Rebusan herbal yang didapat dari pekarangan rumahnya pun tidak banyak membantu. Alhasil, Diah pun terkena serangan asam urat. Menurutnya, hal ini karena faktor keturunan dan karena terlalu banyak mengonsumsi sayuran berserat, seperti daun pepaya dan daun singkong.

Pada bulan Februari 2005, Diah mendapat sebotol sari buah merah 130 ml dari anak keduanya. la pun meminumnya satu sendok teh dengan interval dua kali sehari. Pertama kali minum, Diah merasakan badannya lemas. Namun, karena ingin sembuh, ia terus meminumnya secara rutin. Seperti biasanya, terapi ini ia barengi dengan meditasi. Setelah satu botol habis, ia diberi lagi satu botol 130 ml. Belum habis isi botol kedua ini, rasa ngilu di persendiannya sudah hilang. Begitu juga bengkak di kakinya. Sekarang untuk naik tangga ia sudah tidak kerepotan lagi. Kakinya sudah terasa enteng dan bisa berjalan normal.

Darah Tinggi Menurun dan Maag Sembuh
H. Abdus Salam, Wamena, Jayawijaya

Arek Madura kelahiran Jember 28 Februari 1958 ini datang ke Papua pada tahun 1987 dengan perasaan duka. Pasalnya, Salam, demikian panggilannya sehari-hari, baru saja ditinggal lari oleh istrinya. Dengan perasaan broken heart, lulusan SMP Probolinggo ini berlayar ke Papua dan menetap di Wamena. Di Lembah Baliem ini ternyata lapangan pekerjaan tidak ada, hingga Salam akhirnya menjadi kuli di pabrik tebu. Tiga tahun bekerja di sana, Salam berhasil menggaet adik perempuan majikannya. Setelah itu, Salam pun mulai mandiri. Lama-kelamaan ia berhasil menjadi seorang pengusaha yang terbilang sukses di Wamena, tentu saja berkat dukungan istri barunya yang setia. Bidang usahanya antara lain angkutan darat, industri tabu, kontrakan, kontraktor, dan industri buah merah.

Disebabkan perubahan
gaya hidupnya, pada tahun 1989, Salam terkena penyakit komplikasi antara darah tinggi, maag, dan asam urat. Saat berkunjung ke dokter, tensim­eter menunjukkan angka 230/110 dan asam uratnya 6,8. Maagnya juga menyiksa, apalagi saat ia menyantap masakan pedas, sehingga perutnya terasa perih dan melilit. Obat-­obatan dari dokter tidak banyak membantu meringankan penderitaannya.

Sejak akhir Desember 2004, Salam mulai mengonsumsi minyak buah merah yang banyak diproduksi di Wamena. Secara rutin ia minum dua kali sehari setelah sarapan pagi dan menjelang tidur, sekali minum satu sendok makan. Satu setengah bulan sejak mengonsumsi minyak buah merah, Salam kembali ke dokter. Oleh dokter, darah tingginya dinyatakan turun menjadi 140/80. Maagnya juga sudah sembuh dan Salam pun mulai berani makan masakan pedas.

Dua penyakit kambuhannya, darah tinggi dan maag memang lenyap, tetapi asam uratnya masih bercokol, tidak ada perubahan sedikit pun. Sampai sekarang, Salam masih menunggu keampuhan buah merah untuk menggempur asam uratnya. Untuk menjaga stamina, Pak Haji ini masih setia mengonsumsi minyak buah merah.

Herpes Kelamin Lenyap Dalam Dua Minggu
Ulfa, Karyawan Swasta,
Jakarta

Ulfa, bukan nama sebenarnya, adalah seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta. Gadis lajang berusia 21 tahun ini baru saja menyelesaikan pendidikannya di SMU dan langsung mendapatkan pekerjaan. Sejak sekolah di sebuah SMU di Jakarta, gadis ini terjebak dalam pergaulan bebas, sehingga menjadi penganut seks bebas pula. Karenanya, gadis ini sering berganti pasangan dan berdasarkaq pengakuannya dalam berhubungan seks ia tidak pernah menggunakan alat kontrasespi.

Pada awal Januari 2005, di sekitar selangkangannya muncul bintik­bintik berair yang terasa gatal. Lama­kelamaan bintik-bintik itu semakin gatal dan menyebar merata, bahkan sampai ke sekitar mulut vaginanya. Tentu saja hal ini mengagetkan dan membuatnya ketakutan, tetapi mau berobat ke dokter ia merasa malu. Ulfa kemudian mencoba mengobati dirinya sendiri dengan cara berendam di air panas yang sudah dicampur dengan PK (kalium permanganat). Selain itu, ia juga minum antibiotik. Meskipun demikian, upayanya tidak membuahkan hasil, bahkan penyakitnya semakin menyebar.

Pada akhir Februari 2005, Ulfa mendapat saran untuk minum sari buah merah sekaligus mengoleskan minyak atau salep buah merah ke bagian yang gatal tersebut. Ajaib, tiga hari berikutnya gatal-gatalnya mereda dan dua minggu kemudian herpesnya hilang sama sekali. Bahkan, bekas gatal-gatalnya di kulit paha dan di sekitar vaginanya hilang tak berbekas. Efek minum buah merah menjadikan staminanya di lingkungan kerjanya meningkat.

Sari Buah Merah Menyembuh­kan Alergi pada Bayi
Muhamad Faisal, Parungpanjang, Depok

Ny. Suhana adalah seorang ibu yang baru saja melahirkan bayi pertamanya. Perempuan yang tinggal di Kampung Bulu, Citayam, Depok ini bersuamikan seorang laki­l-aki yang mencoba berwiraswata kecil-kecilan, yakni berdagang spare part sepeda motor. Pada tanggal 17 Desember 2004, Ny. Suhana melahirkan bayi laki-laki. Tentu saja hal ini menggembirakan hatinya sebagai seorang ibu. Namun, kebahagiaan itu tiba-taiba harus berubah menjadi kesedihan. Pasalnya, satu bulan sejak melahirkan, bayinya yang bernama Muhamad Faisal menderita penyakit yang menyerupai kudis atau eksim di sekujur tubuhnya, dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Karena panik, bayinya yang baru berumur satu bulan tersebut dibawa ke sebuah Puskesmas di Parung. Menurut dokter, bayinya menderita alergi, tetapi tidak menyebutkan apa pemicu alergi tersebut. Setelah mendapat obat-obatan dari dokter, Ny. Suhana pun pulang dan merawat anaknya.

Dalam perawatannya, penyakit anaknya tak kunjung sembuh. Tentu saja ia tidak tega melihat buah hatinya tersiksa. Sebulan merawat bayinya di rumah, Ny. Suhana mendapat sari buah merah asal Papua yang konon ampuh dalam menyembuhkan penyakit dari salah seorang tetengganya. Dengan rasa penasaran, ia memberikan sari buah merah kepada bayinya dengan cara meminumkannya sebanyak 2 ml sekali minum. Intervalnya dua kali sehari. Selain diberikan dengan cara diminumkan, sari buah merah tersebut juga dioleskan ke sekujur tubuh bayinya.

Setelah diberi sari buah merah selama satu bulan, kondisi bayinya berangsur-angsur membaik. Penyakit yang menyerupai eksim di sekujur tubuhnya mulai menghilang sedikit demi sedikit. Hampir semua permukaan kulitnya mulus kembali.

Tekanan Darah Tinggi dan Herpes Kulit Hilang dalam Waktu Satu Bulan
Lettu (Purn) H. Abdul Karim, Bogor

H. Abdul Karim adalah seorang purnawirawan TNI AD dengan pangkat terakhir letnan satu. Abdul Karim pernah bertugas di Divisi Siliwangi sebagai seorang pejuang perintis dan penegak kemerdekaan Republik Indonesia. Pejuang yang kenyang bergerilya ini kelahiran tahun 1922. Semasa bertugas ia banyak melakukan perang gerilya di Pulau Jawa, dari Banten, Yogyakarta, sampai Surabaya. la juga terlibat dalam Serangan Umum 1 Maret 1949.

Kini, H. Abdul Karim yang sudah berusia lanjut ini mulai terkena beragam penyakit. Enam tahun yang lalu ia terserang penyakit kulit. Awalnya hanya gatal, kemudian timbul bintik-bintik berair yang semakin lama semakin terasa gatal. Setelah diperiksakan ke dokter, ternyata penyakitnya adalah herpes. Selain terserang virus herpes, ia juga terserang penyakit tekanan darah tinggi.

Pada bulan Januari 2005, Ny. Abdul Karim membeli sebotol sari buah merah. Memang untuk ukuran mereka, harga sari buah merah tersebut terhitung mahal, tetapi demi kesembuhan suaminya, sang istri membelinya juga. Waktu itu, H. Abdul Karim meminum sari buah merah sebanyak satu sendok makan dua kali sehari. Seperti para penderita lain, pertama kali minum rasa mual dan lemas dirasakan anggota veteran ini. Meskipun demikian, setelah satu bulan, tekanan darahnya mulai normal dan bintik­-bintik gatal karena virus herpes yang ada di sekujur tubuhnya pun mulai menghilang. Sampai sekarang, H. Abdul Karim tetap minum sari buah merah.

Meningkatkan Stamina dan Libido
Lukas, Depok

Lukas, bersama beberapa temannya adalah tukang ojek di daerah Jakarta. Rata-rata teman satu grupnya berumur 30—45 tahun. Waktu operasi mereka adalah dari pukul 06.00—18.00 WIB, bahkan untuk mengejar setoran kadang­-kadang mereka narik sampai malam. Pola kerja seperti ini tentu saja banyak menguras stamina mereka. Sesampai di rumah, kondisi fisik mereka sering kecapaian, sehingga kebutuhan biologis para istri sering terabaikan. Hanya tempat tidur yang menjadi tujuan mereka, untuk tempat memejamkan mata hingga pagi harinya.

Selama ini, untuk membantu meningkatkan staminanya, Lukas bersama teman-temannya selalu mengonsumsi minuman berenergi. Paling tidak, mereka bisa minum dua botol per hari. Meskipun demikian, cara ini tidak banyak membantu tubuhnya.

Pada pertengahan Februari 2005, Lukas bersama teman-temannya mecoba mengonsumsi sari buah merah. Waktu itu, mereka mencoba meminum sari buah merah sebanyak satu sendok teh pada malam hari menjelang tidur. Hasilnya ternyata berbeda-beda. Sebagian besar temannya merasa mual, mulas, badan lemas, beberapa menit kemudian mengantuk, dan tertidur. Namun pada pagi harinya, badan mereka menjadi segar dan semangatnya meningkat.

Lukas sendiri tidak merasakan mual, mulas, lamas, dan ngantuk. Efek yang dirasakannya 15 menit setelah meminum sari buah merah membuat gairah seksualnya meningkat, badannya menjadi segar dan fit seperti telah meminum minuman berenergi. Temannya ada yang merasakan hal serupa setelah setengah jam, ada yang satu jam, dan adapula yang merasakan libidonya meningkat setelah dua jam. Masuk angin dan pegal-pegal pun jarang menyerang walaupun harus narik ojek saat hari hujan dan panas.

Sampai sekarang, Lukas masih rutin mengonsumsi sari buah merah menjelang tidur. Badannya tetap fresh dan fit. Dan, jika lupa meminum sari buah merah, badan Lukas menjadi loyo dan seolah-olah kehilangan tenaga.

Eksim yang Diderita Selama Sembilan Bulan Sembuh
Widyawati, Parungpanjrang, Depok

Sebagai seorang istri pegawai negeri, selain sibuk sebagai ibu rumah tangga, Widyawati (bukan nama sebenarnya) sibuk di organisasi Dharma Wanita di lingkungan suaminya bekerja.

Sejak tahun 1996, Widyawati terserang eksim di kedua pergelangan kakinya. Lama-kelamaan eksimnya bertambah gatal dan semakin melebar. Selama ini Widyawati yang tinggal di Parungpanjang, Depok, rutin memeriksakan penyakitnya ke dokter spesialis kulit di Semarang, Jawa Tengah. Di Semarang, Widyawati diinjeksi agar penyakitnya sembuh. Anehnya, sepulang dari Semarang eksimnya yang sudah berangsur-angsur sembuh, beberapa lama kemudian kambuh lagi.

Kejadian tersebut terus berulang hingga tahun 2004. Rasa gatal di kedua pergelangan kaki tersebut kadang-kadang menyerang dengan hebat dan secara reflek mendorong tangannya untuk menggaruk, sehingga kondisinya semakin bertambah parah. Karenanya, tidak mengherankan jika eksim tersebut semakin melebar dan semakin tebal. Selain berobat ke dokter ahli kulit di Semarang, ia juga mencoba berbagai macam salep untuk pengobatan eksimnya, tetapi hasilnya nol besar.

Pada bulan Januari 2005, kebetulan salah seorang anak perempuannya berjualan sari buah merah yang didapatkan dari Wamena, Papua. Oleh anak perempuannya tersebut, Widyawati disarankan meminum sari buah merah tersebut dan mengoleskannya di pergelangan kakinya yang terkena eksim. Widyawati meminum sari buah merah dua kali sehari sebanyak satu sendok makan. Pergelangan kakinya diolesi minyak buah merah setelah mandi atau buang air besar: Dari hari-ke hari eksim di kedua pergelangan kakinya mulai menyusut dan kulitnya mulai halus. Eksim yang diderita selama sembilan tahun itu kini telah sembuh. Perawatan dengan sari buah merah pun tetap rutin dilakukan untuk membersihkan bekas lukanya.

Tekanan Darah Turun dan "Gempa Bumi" Akibat Penyakit Jantung Lenyap
Sri Widowati, Ujung Aspal, Pondok Gede

Sehari-hari Sri Widowati yang berumur 59 tahun adalah ibu rumah tangga yang mengasuh 3 dari 4 anaknya. Anak pertamanya sudah lepas dari asuhannya karena sudah menjalin bahtera rumah tangga dan mempunyai rumah sendiri. Bu Wid, demikian ia biasa disapa, sejak muda sudah mengidap penyakit tekanan darah tinggi dan jantung. Bahkan, ia pernah dirawat beberapa kali di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Jika penyakit jantungnya sedang kambuh, seolah-olah ia merasakan sedang terjadi gempa bumi. Sedangkan, ketika tensi darahnya sedang naik, kadang-kadang anaknya yang terkena getah, ia pun marah-­marah seenaknya.

Pada Desember 2004, anak pertamanya membawa satu botol besar yang berisi sari buah merah dari Papua. Waktu itu Bu Wid agak enggan dan jijik meminumnya, ia agak merasa mual dan ingin muntah. Setelah itu, badannya terasa lemas dan ia pun tertidur. Begitu bangun tidur keesokan harinya, perubahan drastis dialaminya. Badannya terasa segar dan fit. "Seperti muda lagi", kata Bu Wid.

Setelah berlangsung sekitar 1 bulan, berangsur-angsur "gempa bumi" dan debaran jantungnya menghilang. Ketika ke dokter, tensimeter menunjukkan angka 110/90. Angka ini jelas berbeda dengan 2 bulan yang lalu, yang menunjukkan 220/140. Rasa berdenyut-denyut di kepala juga hilang, rasa sakit seperti ditusuk jarum di ulu hatinya juga lenyap. Namun, ia belum memeriksakan jantungnya ke RS Harapan Kita lagi. Baginya, yang terpenting adalah tubuhnya sudah terasa enak lagi.

Stroke Sembuh Setelah Minum Sari Buah Merah
Herry Sutjipto, Jati Makmur, Bekasi

Herry Sutjipto yang tinggal di Jati Makmur Bekasi adalah seorang karyawan swasta yang bekerja di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan. Pria kelahiran 23 Januari 1956 ini mengaku tidak pernah mengidap penyakit berbahaya.

Pada bulan Agustus 2004, perokok berat ini asyik menonton televisi. Tanpa disadarinya, tiba-tiba dari lengan sampai ujung jari tangan kanannya mati rasa, begitu juga kaki kanannya. Herry pun kebingungan. Istrinya segera menelepon sang kakak yang kebetulan seorang dokter. Melalui telepon, kakak iparnya menanyakan kondisi Herry, apakah matanya bisa terpejam dan lidahnya masih bisa menjulur. Kakak ipar ini curiga Herry terserang stroke. Atas saran sang kakak ipar, Herry dibawa ke RS Harapan Kita Bekasi. Disebabkan saat itu hari Minggu, dokter spesialis saraf sedang libur, sehingga Herry dilarikan ke UGD RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Namun, karena takut melihat situasi ruangan UGD yang menurut Harry menyeramkan, Herry meminta dibawa lagi ke RS Harapan Kita.

Setelah dilakukan pemeriksaan lewat CT-scan, di kepala Herry ternyata terdapat penyumbatan pembuluh darah sebanyak empat titik, tetapi belum sempat pecah. Herry terserang stroke dan harus menginap untuk menjalani perawatan selama dua minggu. Saat itu Herry sudah tidak bisa berjalan dengan normal, kaki kanannya harus diseret karena sudah mati rasa dan hampir lumpuh. Mandi sendiri juga sudah tidak bisa. Di samping itu, ia tidak bisa bicara lagi. Perkataannya ngelantur dan tidak terkontrol oleh otaknya. Memorinya lemah, sehingga tidak bisa mengingat teman dan keluarganya yang menjenguknya setiap hari.

Setalah dua minggu menjalani perawatan di rumah sakit ia melanjutkan perawatan sendiri di rumah. Praktis selama tiga bulan ia harus beristirahat dan tidak bisa bekerja di kantornya lagi. Sekembalinya dari rumah sakit belum ada perubahan yang berarti. la masih harus latihan berjalan dan banyak mengonsumsi obat.

Pada bulan Desember 2004, Herry melihat tayangan di salah satu stasiun televisi swasta yang membahas khasiat buah merah untuk penyembuhan berbagai penyakit, termasuk stroke. Setelah menonton tayangan di televisi, ia mencari produk sari buah merah di daerah Gunung Sahari, Jakarta. Kemudian secara rutin ia minum sari buah merah tersebut.

Sejak mendapatkan sari buah merah, Herry minum satu sendok makan dua kali sehari. Berangsur-angsur manfaat sari buah merah ini mulai terasa. Tangan dan kakinya mulai pulih. Sebalumnya, selain mati rasa, kedua organ tubuh tersebut terasa panas.
 
Sekarang ia sudah bisa berjalan normal, tangannya baik, dan sudah masuk kerja seperti biasa. Karena sembuh berkat pertolongan Tuhan melalui buah merah, sekarang Herry ikut berjualan sari buah dari Papua ini.

Radang Paru-paru Sembuh
Budi Sulistyo, Pelajar, Bekasi

Budi Sulistyo adalah seorang pelajar di sebuah SMU di Bekasi. Sebagai seorang pelajar yang gaul, tidak jarang Budi terjerumus dalam pergaulan yang negatif dengan teman-temannya. Merokok merupakan salah satu kegiatan rutin di sela-sela waktu Iuangnya. Kadang-kadang ia pun terlibat tawuran dengan sesama pelajar.

Pada awal November 2004, Budi mulai sesak napas dan di bagian dadanya terasa sakit. Perasaan menyiksa ini terus menyerangnya sampai dokter menyatakan ia terserang radang paru-paru dan harus mendapat perawatan di Rumah Sakit Harapan Kita, Bekasi, kemudian perawatan intensif di rumah. Dokterjuga menyarankan agar ia mau menjalani operasi. Namun, salah seorang kerabatnya menyarankan agar ia meminum sari buah merah yang didapat dari temannya di Papua. Atas desakan orangtua, Budi meminumnya walaupun merasa jijik.

Pertama kali meminum sari buah merah, Budi merasa mual, mulas, bahkan hampir muntah. Namun, karena setiap hari dipaksa, ia meminumnya secara rutin. Satu bulan setelah mengonsumsi sari buah merah, ia memeriksakan kodisi paru-parunya ke dokter. Dokter yang memeriksa dibuat keheranan, karena paru-paru Budi sudah normal tanpa ada penyakit lagi. Pertanyaan dokter dijawab oleh orangtuanya, bahwa Budi mengonsumsi sari buah merah. Dokter pun menyarankan agar Budi meneruskan mengonsumsinya.

Meninggalkan Food Supplement dan Beralih ke Sari Buah Merah
Devin S. Nasyori, Karyawan Swasta, Blok M, Jakarta

Devin yang lahir pada bulan Maret 1968 jni adalah seorang karyawan swasta yang tinggal di Blok M, Jakarta. Sebagai seorang pekerja di kota metropolitan yang kompleks, ia terbiasa menghabiskan waktunya di mobil dalam perjalanan ke dan dari kantornya di Kebon Jeruk yang selalu macet. Pola hidup dan makannya pun tidak teratur. Untuk meningkatkan staminanya, pria ini selalu mengonsumsi food supple­ment dalam berbagai bentuk dan merek. Meskipun demikian, kondisi tubuhnya tidak selalu fit. Karenanya selalu mencoba segala suplemen keluaran terbaru yang harganya terbilang cukup mahal. Masuk angin dan badan pegal-pegal pun menjadi langganan tetapnya.

Pada bulan Februari 2005, seorang teman dekatnya memperkenalkan sari buah merah kepadanya. Devin yang waktu itu tertarik dan kebetulan juga sudah mendengar cerita tentang kehebatan buah merah langsung mencobanya. Namun, setelah meminum satu sendok makan, badannya langsung lemas seperti tanpa tulang. Akhirnya ia pun langsung lesehan di lantai di rumah temannya dan tertidur selama tiga jam. Saat terbangun, badannya menjadi segar dan enteng. Akhirnya, ia membawa pulang 1/2 botol sari buah merah dari temannya itu.

Disebabkan tidak mempunyai keluhan penyakit, Davin hanya minum pada malam hari menjelang tidur. Dosisnya satu sendok teh sekali sehari. Sejak itu, badannya menjadi fit, serta tidak pernah masuk angin dan pegal-pegal lagi. Selama jni ia tidak pernah berolahraga, tetapi sejak minum sari buah merah ia sering melakukan jogging. Suplemen yang bermacam-­macam merek pun ditinggalkannya.

Tensi Darah Menurun dalam Tiga Minggu
Ny. Hajjah Anas, Penderita Darah Tinggi, Jakarta

Ny. Hajjah Anas lahir di Kuningan, Jawa Barat, 22 Februari 1942. Sejak muda, ibu paruh baya jni mengidap penyakit tekanan darah tinggi. Obat­-obatan dari dokter secara rutin diminumnya.

Pada awal bulan Februari 2005, salah seorang anak tercintanya yang sudah merasakan manfaat sari buah merah menyarankan untuk ikut mengonsumsinya. Sari buah merah dari sang anak diminumnya satu sendok teh dua kali sehari, pagi dan malam harj. Kebetulan sebelum mengonsumsi sari buah merah ia sempat ke puskesmas untuk memeriksakan tekanan darahnya. Saat itu, tensimeter menunjukkan angka 210/110.

Saat minum sari buah merah untuk pertama kalinya ia merasakan hal yang sama dengan anaknya, perutnya terasa mual dan badannya menjadi lemas. Namun, beberapa hari kemudian tubuhnya menjadi terasa fit. Tepat tiga minggu setelah minum sari buah merah ia kembali ke puskesmas untuk memeriksakan tensi darahnya. Berbeda dengan tiga minggu sebelumnya, tensimeter menunjukkan angka 170/110. Sebuah perubahan yang lumayan baik. Untuk lebih menyeimbangkan kerja jantungnya, Ny. Hajjah Anas sampai sekarang tetap mengonsumsi sari buah merah. buah merah

Line Image
Home | Sekilas Buah Merah | Khasiat Buah Merah | Kandungan | Testimonials | Cara Pembelian | Kontak Kami

Disclaimer - These statements have not been evaluated by the FDA.
The information on this web site is not intended to diagnose, treat, or cure any disease.

Copyright © 2006 Buah-Merah.com All Rights Reserved